Postingan

Muhammadiyah dan NU: Penjaga Moderatisme Islam di Indonesia

Hayula, Vol. 1, No. 1, 2017 Z akiya Darajat Abstract Islam has been expressed through its adherents in many ways. Sometimes the expression has been judged as hard and even arrogant. This is not the case with Islam in Indonesia which has been shown more friendly expression of Islam. However, the radical movements have challenged this peaceful image of Islam in Indonesian. The research which mainly utilized the library sources has concludes that Islam in Indonesia is still considered to be a moderate Islam and in this case, Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama are two organizations which can be seen as the guardians of Islamic moderatism in Indonesia.  Keywords Moderatisme; Islam Indonesia; Muhammadiyah; Nahdlatul Ulama Full Text: PDF References A. Syafi’i Ma’arif, Hubungan Muhammadiyah dan Negara: Tinjauan Teologis, dalam ‎Rekonstruksi Gerakan Muhammadiyah pada Era Multiperadaban, Yogyakarta: UII ‎Press, 2000.‎ Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara; Sejarah Wacana dan Kekuasaan ...

Transforming the writing of history: The new narrative of enlightenment within Muhammadiyah

RIMA: Review of Indonesian and Malaysian Affairs Volume 47 Issue 2 (2013) Harijanto, Christian ;  Chalmers, Ian Abstract:  This article seeks to account for a recent change in the method of history writing within the major Indonesian social organisation Muhammadiyah, namely a shift from chronology to historical narrative. Until recently, Muhammadiyah's history had always been written as a chronicle, a form with minimal moral import. But in 2010 Muhammadiyah published an historical account that takes the form of a narrative, a form with a beginning, middle and moral end. This historical account has been constructed around three ideas: the importance of individual enlightenment, that the founder of Muhammadiyah (Ahmad Dahlan) was the prototype of the enlightened individual, and that divine intervention served to monitor this process. Further, this article suggests that the change to a narrative form can be explained by shifts in the political balance within Muhammadiyah as ...

Sekolah Agama dan Perdamaian Perpektif Muhammadiyah dan NU bagian 4/4

Gambar
Ulil Abshar Abdalla menjelaskan bahwa Agama berawal dari kritik sosial. Ulil juga menerangkan sejumlah tren di negara Arab saat ini tentang banyaknya orang yang keluar dari Islam. Pada bagian ini, terdapat juga sejumlah pertanyaan yang ditujukan pada kedua narasumber yang kemudian dijawab dengan lugas juga oleh kedua narasumber.

Sekolah Agama dan Perdamaian Perpektif Muhammadiyah dan NU bagian 3/4

Gambar
Dr. Ahmad Najib Burhani berbicara tentang RUU Perlindungan Umat Beragama, tentang ortodoksi dan pahaman-pahamann minoritas, serta perubahan Moralitas terhadap bangsa termasuk menjawab isu LGBT. Sementara itu Ulil Abshar Abdalla sebagai perwakilan dari NU menjelaskan eksesnsi dari seseorang beragama. Seri Sekolah Agama ICRP dalam perspektif NU dan Muhammadiyah, pada 12 Juni 2015.

Sekolah Agama dan Perdamaian Perpektif Muhammadiyah dan NU bagian 2/4

Gambar
Dr. Ahmad Najib Burhani, menjelaskan tentang tafsir Tematik yang dipakai oleh Muhammadiyah, yang menjelaskan tentang orang-orang non Muslim di luar Islam menurut pandangan Muhammadiyah. Namun prinsip-prinsip yang diterapkan dalam Muhammdiyah tidak selamanya juga diterapkan secara total oleh Masyarakat Muhammadiyah bahkan ada juga yang melakukan penolakan. Seri Sekolah Agama dan Perdamaian dalam perspektif Islam, NU dan Muhammadiyah di ICRP, Jakarta pada 5 Juni 2015.

Sekolah Agama dan Perdamaian Perpektif Muhammadiyah dan NU bagian 1/4

Gambar
Dr. Ahmad Najib Burhani, Peneliti LIPI dan sekaligus merupakan aktivis Muhammadiyah menjelaskan tentang Islam, Kemuhammadiyahan, Perdamaian dan tentang prinsip serta teks yang menjadi pengangan hidup sehari-hari masyarakat Muhammadiyah dan bagaimana masyarakat Muhammadiyah menerapkannya. Pertemuan kedua seri sekolah Agama ini dilaksanakan pada tanggal 12 Juni 2015 di kantor ICRP, Jakarta.

Ngobrol Bareng Muhammadiyah tentang Kebhinekaan

Gambar
Ngobrol Gayeng Kebhinekaan, tema: “Memaknai Keberagaman Menuju Indonesia Sejahtera”. Diselenggarakan oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah bekerja sama dengan LSM PETIR. Aula RS PKU Muhammadiyah ROEMANI Semarang, Jum’at, 21 Maret 2017.

Visitor

Online

Related Post