Cinta Kepada Allah

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb, telah menceritakan kepada kami Huyai dari Abu Abdurrahman Al Hubuli, dari Abdullah bin 'Amr, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar pada saat perang Badr bersama tiga ratus lima belas orang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdoa: "Ya Allah, mereka adalah orang-orang yang tidak beralas kaki maka berilah mereka tunggangan, mereka adalah orang-orang yang telanjang maka berilah mereka pakaian, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang lapar maka kenyangkanlah mereka." Kemudian Allah memberi beliau kemenangan pada perang Badr. Sehingga mereka berbalik kondisi mereka, tidak ada seorangpun diantara mereka melainkan ia telah pulang dengan membawa satu atau dua ekor unta, dan mereka berpakaian serta merasa kenyang.

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ulayyah dari Ibnu Juraij dari 'Atha` dari 'Ubaid bin 'Umair telah mengabarkan kepadaku seseorang yang aku percaya -aku kira yang di maksud oleh 'Ubaid adalah Aisyah- dia berkata; "Telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdiri lama sekali bersama orang-orang. Kemudian beliau ruku', lalu berdiri dan ruku' lagi kemudian berdiri lalu ruku' lagi. Beliau mengerjakan shalat dua raka'at, yang setiap raka'atnya tiga kali ruku'. Setelah ruku' yang ketiga baru beliau sujud. Beberapa orang ketika itu pingsan karena lamanya beliau berdiri bersama mereka, sehingga seember air di percikkan ke tubuh mereka. Apabila ruku' beliau mengucapkan: "Allahu akbar." Dan apabila mengangkat kepala (I'tidal) beliau mengucapkan: "Sami'allahu liman hamidah" sehingga matahari kembali terang. Kemudian berliau bersabda: 'Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan terjadi bukan karena matinya atau hidupnya seseorang, akan tetapi keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah Azza Wa Jalla untuk memberi peringatan kepada para hamba-Nya, apabila terjadi gerhana, maka bersegeralah kalian melaksanakan shalat. '

Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Tsabit dari Abdullah bin Rabah dia berkata, "Kami datang sebagai delegasi kepada Mu'awiyah bin Abu Sufyan, dan di antara kami ada Abu Hurairah. Kami bergilir memasak makanan masing-masing satu hari. Ketika giliranku memasak, aku berkata, "Wahai Abu Hurairah, hari ini adalah giliranku memasak." Tidak lama kemudian mereka telah datang ke tempatku, tetapi makanan belum tersedia, lantas aku berkata, "Wahai Abu Hurairah, alangkah baiknya jika kamu bercerita kepada kami tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sampai makanan kita terhidang!" Dia berkata, "Kami pernah pergi bersama-sama dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada hari penaklukan kota Makkah, beliau mengangkat Khalid bin Walid selaku komandan pasukan sayap kanan, dan mengangkat Zubair menjadi komandan pasukan sayap kiri, serta mengangkat Abu 'Ubaidah mengepalai pasukan pejalan kaki yang di tempatkan di lembah. Kemudian beliau bersabda: "Wahai Abu Hurairah, panggilah orang-orang Anshar untuk mendekat Aku!" Aku langsung memanggil mereka hingga mereka pun segera berkerumun di dekat beliau, lalu belau bersabda: "Wahai orang-orang Anshar, adakah kalian melihat pasukan tentara Quraisy?" mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda: "Perhatikan baik-baik, apabila kalian bertemu dengan mereka besok hari, maka habisilah mereka." sambil memberi isyarat dengan kedua tangannya -meletakkan yang kanan di atas yang kiri-. Kemudian beliau bersabda: "Sampai bertemu di Shafa." Abu Hurairah berkata, "Dan saat itu tidak ada seorang pun yang mendekati mereka melainkan mereka habisi." Abu Hurairah melanjutkan, "Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam naik ke bukit Shafa, dan orang-orang Anshar datang sembari mengililingi beliau di Shafa, ketika mereka sedang di Shafa, tiba-tiba Abu Sufyan datang seraya berkata, "Wahai Rasulullah, jika orang-orang Quraisy di habisi semua, maka tidak akan ada lagi orang-orang Quraisy setelah ini." Abu Sufyan mengatakan, "Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka dia aman, barangsiapa meletakkan senjatanya maka dia aman, barangsiapa menutup pintunya maka dia aman." Setelah itu orang-orang Anshar sama berkata, "Agaknya laki-laki ini (Rasulullah) telah dipengaruhi perasaan kasih sayang kepada keluarganya hingga timbul rasa cinta terhadap sanak familinya." Maka turunlah wahyu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Kaliankah yang mengatakan, 'agaknya laki-laki ini telah dipengaruhi perasaan kasih sayang terhadap keluarganya hingga timbul rasa cinta terhadap sanak familinya?, sekali-kali tidak, lupakah kalian siapa aku? -beliau mengucapkannya hingga tiga kali- aku adalah Muhammad seorang hamba Allah dan Rasul-Nya, aku telah berhijrah kepada Allah dan kepada kalian semua, maka hidup dan matiku bersama kalian." Mereka lantas berkata, "Demi Allah, tidaklah kami mengatakan melainkan karena kami iri dengan Allah dan Rasul-Nya." Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya membenarkan apa yang kalian katakan dan memaafkan perbuatan kalian." (Muslim)

Telah bercerita kepada kami Ya'qub telah bercerita kepada kami ayahku dari Ibnu Ishaq telah bercerita kepadaku 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah Al Anshari dari Mahmud bin Labid dari 'Abdullah bin 'Abbas berkata: telah bercerita kepadaku Salman Al Farisi haditsnya dari mulutnya berkata: Aku adalah orang Persia dari Asbahan dari penduduk salah satu perkampungannya yang bernama Jai dan ayahku adalah pemimpin kampungnya, aku adalah orang yang paling ia sayangi, ia tetap mencintaiku hingga ia menahanku dirumahnnya, yaitu terus menjaga perapian layaknya anak perempuan ditanah dirumah, aku lelah menjalankan agama majusi hingga aku menjadi pelayan api yang dinyalakan dan tidak pernah ditinggalkan barang sesaat. Ayahku memiliki pekarang besar dan pada suatu hari ia tidak sempat mengutus bangunannya lalu ia berkata kepadaku: Wahai anakku! Sesungguhnya aku tidak sempat mengurus bangunan hari ini karena aku sibuk dengan pekaranganku, pergi dan lihatlah. Ia memerintahkanku sebagaian hal yang ia inginkan lalu aku pun pergi menuju pekarangan ayahku, aku melewati sebuah gereja nasrani, aku mendengar suara-suara mereka, aku masuk dan melihat yang mereka lakukan, saat melihat mereka aku mengagumi shalat mereka dan aku menyukai hal mereka, aku berkata: Demi Allah ini lebih baik dari agama kami, demi Allah aku tidak meninggalkan mereka hingga matahari terbenam dan aku meninggalkan pekarangan ayahku, aku tidak mendatanginya, aku berkata kepada mereka: Dari mana agama ini berasal? Mereka menjawab: Dari Syam. Lalu aku kembali menemui ayahku dan ia telah mengirim orang untuk mencariku dan aku tidak sempat melakukan pekerjaannya secara keseluruhan. Berkata Salman Al Farisi: Saat aku mendatangi ayahku, ia berkata: Wahai anakku! Kamu dari mana, bukankah kau aku perintahkan sesuatu? Aku berkata: Wahai ayahyku, aku melintasi suatu kaum, mereka shalat digeraja milik mereka, agama mereka membuatku kagum, demi Allah aku tetap berada didekat mereka hiungga matahari terbenam. Ayahku berkata: Wahai anakku! Tidak ada kebaikan pada agama itu, agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik darinya. Aku berkata: Tidak, agama itu lebih baik dari agama kita. Ayahku mengkhawatirkanku lalu ia mengikat kakiku dan menahanku dirumah. Kaum nasrani mengirim utusan menemuiku, aku berkata kepada mereka: Bila rombongan dagang dari Syam mendatangi kalian, beritahu aku. Lalu kafilah dagang dari Syam dari kalangan nasrani tiba lalu mereka memberitahukan kedatangan mereka kepadaku. Aku berkata kepada mereka: Bila urusan mereka usai dan mereka ingin kembali ke negara mereka, beritahu aku. Saat mereka hendak kembali ke negara mereka, mereka memberitahukan hal itu kepadaku lalu aku melemparkan rantai besi dari kakiku lalu aku keluar bersama mereka hingga aku tiba di Syam, saat tiba di Syam, aku bertanya: Siapa pemeluk agama ini yang terbaik? Mereka menjawab: Uskup digeraja. Lalu aku mendatanginya, aku berkata: Aku mulai simpai dengan agama ini dan aku ingin bersamamu, aku akan melayanimu digerejamu, aku belajar darimu dan shalat bersamamu. Uskup itu berkata: Silahkan masuk. Aku masuk bersamanya, ternyata ia adalah orang tidak baik, ia memerintahkan mereka untuk bersedekah dan menganjurkannya, bila mereka mengumpulkan banyak uang untuknya, uskup itu menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak diberikan kepada kaum fakir miskin hingga ia mengumpulkan tujuh tempayan emas dan perak. Aku pun sangat membencinya karena perbuatannya yang aku lihat, kemudian orang itu mati dan orang-orang nasrani mendatanginya untuk menguburnya. Aku berkata kepada mereka: Dia adalah orang yang tidak baik, ia memerintahkan kalian bersedekah dan menganjurkannya, bila kalian datang membawa sedekah, ia menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak diberikan kepada kaum fakir miskin sama sekali. Mereka bertanya: Bagaimana kau tahu? Aku menjawab: Aku akan menunjukkan harta simpanannya pada kalian. Mereka bertanya: Tunjukkan. Lalu aku memperlihatkan tempatnya lalu mereka mengeluarkan tujuh tempayan penuh dengan emas dan perak. Saat melihatnya, mereka berkata: Demi Allah kami tidak akan menguburnya selama-lamanya. Lalu mereka menyalibnya dan merajamnya dengan batu. Setelah itu mereka mendatangkan orang lain untuk menggantikan posisinya. Berkata Salman Al Farisi: Tidaklah aku melihat seesorang yang tidak shalat lima waktu melainkan menurutku ia pasti lebih baik dari orang itu, tidak lebih zuhud terhadap dunia, tidak lebih menginginkan akhirat dan tidak lebih membiasakan beribadah pada malam dan siang melebihinya. Aku sangat mencintai orang itu dengan suatu cinta yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, aku tinggal bersamanya selang berapa lama lalu ia sekarat, aku berkata padanya: Hai Fulan, aku sudah hidup bersamamu dan aku sangat mencintaimu dengan cinta yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dan telah tiba urusan Allah seperti yang telah kau lihat, apa yang kau wasiatkan padaku dan apa gerangan yang kau perintahkan padaku? Orang itu berkata: Wahai anakku, demi Allah saat ini aku tidak melihat seorang pun seperti aku dulu, orang-orang sudah tiada, mereka sekarang merubah dan meninggalkan lebih banyak dari yang pernah mereka lakukan kecuali seseorang yang ada di Mushil, dia adalah si fulan, dia seperti aku, temuilah dia. Saat orang itu meninggal dan disemayamkan, aku menemui orang Mushil itu lalu aku berkata: Hai fulan, sesungguhnya si fulan berwasiat kepadaku saat sekarat agar aku bertemu denganmu, ia memberitahuku bahwa kau seperti dia. Orang itu berkata: Tinggallah ditempatku. Aku tinggal ditempatnya dan ternyata ia adalah orang terbaik berdasarkan urusan temannya. Tidak lama kemudian orang itu meninggal dunia, saat sekarat aku berkata kepadanya: Hai fulan, sesungguhnya si fulan berwasait kepadaku agar menememuimu dan kini urusan Allah 'azza wajalla telah tiba mengenaimu seperti yang kau lihat, lantas kepada siapa kau mewasiatkanku dan apa yang kau perintakan padaku? Orang itu berkata: Wahai anakku! Aku tidak mengetahui seorang pun seperti itu kecuali seseorang di Nashiyyin, dia adalah si fulan, temuilah dia. Saat ia meninggal dunia dan disemayamkan, aku menemui orang Nashiyyin, aku mendatanginya dan memberitahukan beritanya serta perintah yang diberikan padaku. Orang itu berkata: Tinggallah bersamaku. Aku pun tinggal ditempatnya ternyata ia sama seperti kedua temannya. Aku tinggal bersama orang terbaik, demi Allah tidak lama kemudian kematian datang menjempunya. Saat sekarat, aku berkata padanya: Hai fulan, sesungguhnya si fulan berwasiat kepadaku untuk menemui seseorang, ia berwasiat untuk menemuimu, lantas kepada siapa engkau mewasiatkanku untuk menemuinya dan apa yang kau perintahkan padaku. Ia berkata: Wahai anakku! Demi Allah kami tidak mengetahui seorang pun yang tetap seperti kami yang aku perintahkan padamu agar menemuinya kecuali seseorang di Amuriyah, ia seperti kami, bila kau masih hidup, temuilah dia karena ia sama seperti kami. Saat orang itu meninggal dan disemayamkan, aku menemui orang Amuriyah dan aku memberitahukan kisahnya pada orang itu. Orang itu berkata: Tinggallah ditempatku. Lalu aku tinggal bersama seseorang sesuai ajaran para sahabat-sahabatnya dan urusan mereka. Berkata Salman Al Farisi: Aku bekerja hingga aku punya banyak sapi dan kambing lalu kematian menjelang orang itu, saat sekarang aku berkata padanya: Hai fulan, dulu aku pernah bersama seseorang, ia berwasiat kepadaku agar memenuhi si fulan kemudian ia berwasiat kepadaku agar memenuhi seseorang, lalu ia berwasiat kepadaku agar mememuimu, kepada siapakah gerangan engkau berwasiat kepadaku untuk aku temui dan apa yang kau perintahkan padaku? Ia berkata: Wahai anakku! Demi Allah aku tidak mengetahui seorang pun seperti kami dulu yang aku perintahkan agar kau datangi tapi kau telah dinaungi oleh masa seorang nabi yang diutus membawa agama Ibrahim, ia muncul ditanah arab, ia berhijrah kesuatu kawasan diantara dua padang pasir, diantara keduanya ada kebun kurma, didirinya ada tanda-tanda yang tidak samar, ia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah, diantara kedua pundaknya ada tanda kenabian, bila kau bisa pergi ke negeri itu lakukanlah. Setelah itu ia meninggal lalu aku tinggal selang berapa lama di Amuriyah kemudian sekelompok pedagang dari Bani Kalb melintasiku, aku berkata kepada mereka: Bawalah aku ke negeri arab dan aku akan memberi kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini. Mereka berkata: Baik. Aku memberikan semua itu pada mereka hingga mereka membawaku ke Wadil Qura, mereka menzhalimi aku dan menjualku pada seorang yahudi sebagai seorang budak, aku tinggal ditempat orang itu dan aku melihat kebun kurma dan aku berharap semoga itulah negeri yang disebutkan oleh temanku. Saat aku berada ditempatnya, seorang keponakannya datang dari Madinah dari Bani Quraizhah, ia membeliku dari orang itu dan ia membawaku ke Madinah. Demi Allah tempat itu kini telah aku lihat persis seperti ciri-ciri yang disebutkan temanku. Aku tinggal ditempat itu dan Allah mengutus rasulNya, beliau tinggal di Makkah selama waktu ia tinggal disana. Aku sama sekali tidak mendengar khabar mengenai beliau karena aku sibuk sebagai seorang budak lalu beliau berhijrah ke Madinah, demi Allah aku sungguh tengah mengurus pelepah kurma milik tuanku, aku melakukan beberapa pekerjaan ditempat itu sementara tuanku tengah duduk, tiba-tiba seorang keponakannya datang dan berdiri dihadapannya, ia berkata: Allah membinasakan Bani Qailah, demi Allah mereka sekarang berkumpul di Quba` dengan dipimpin oleh seseorang yang datang dari Makkah hari ini, mereka mengiranya nabi. Berkata Salman Al Farisi: Saat mendengarnya, aku gemetaran hingga aku kira akan jatuh mengenai tuanku. Aku turun dari pohon kurma lalu aku berkata kepada keponakan tuanku: Apa kau bilang, apa kau bilang? Lalu tuanku marah lalu memukulku dengan kerasnya kemudian berkata: Apa urusanmu dengan hal ini, sana kerja. Aku berkata: Bukan apa-apa, aku hanya ingin mempertegas yang ia katakana. Berkata Salman Al Farisi: Saya memiliki sesuatu yang telah saya kumpulkan, saat sore hari aku mengambilnya lalu aku pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallamsaat beliau berada di Quba`, aku masuk menemui beliau lalu aku berkata kepada beliau: Aku dengar Tuan adalah orang shalih, Tuan bersama para sahabat asing yang memiliki suatu keperluan, ini sedikit punyaku aku berikan sebagai sedekah, menurutku kalian lebih berhak mendapatkannya dari pada yang lain. Lalu aku mendekatkannya lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallambersabda kepada para sahabat beliau: "Makanlah" sementara beliau menahan tangan dan tidak makan. Aku berkata dalam hati: Ini tanda pertama. Lalu aku pergi meninggalkan beliau, aku mengumpulkan sesuatu kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallampindah ke Madinah, aku mendatangi beliau lalu aku berkata: Aku melihat Tuan tidak memakan barang sedekah, ini hadiah, dengannya aku memuliakan Tuan. Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallammemakan dan memerintahkan para sahabat beliau untuk makan, mereka pun makan bersama beliau. Aku berkata dalam hati: Ini tanda kedua. Setelah itu aku mendatangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallamsaat beliau di Baqi' Al Gharqad, beliau tengah mengiring jenazah salah seorang sahabat beliau, beliau mengenakan dua selimut milik beliau, beliau duduk ditengah-tengah para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau lalu aku berputar untuk melihat punggung beliau, aku melihat tanda seperti yang disebutkan oleh temanku, saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallammeliahtku mengitari beliau, beliau tahu bahwa aku mencari bukti tentang sesuatu yang dijelaskan padaku. Beliau melepas selendang beliau dari punggung beliau lalu aku melihat tanda, aku mengenalinya lalu aku tertelungkup dihadapan beliau, aku mencium beliau dan aku menangis. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallambersabda kepadaku: "Pindahlah." Aku pun pindah lalu aku mengisahkan ceritaku pada beliau seperti yang aku kisahkan padamu wahai Ibnu 'Abbas. Para sahabat beliau mendengar kisahku, hal itu membuat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallamkagum. Kemudian Salman Al Farisi sibuk dengan pekerjaannya sebagai budak hingga tidak turut serta dalam perang Badar dan Uhud bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Bebaskan dirimu secara diangsur wahai Salman." Aku pun meminta pembebasan diriku dari tuanku dengan syarat aku harus menaman tigaratus pohon kurma yang ditanam ditempatnya dan uang sebesar empat puluh uqiyah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallambersabda kepada para sahabat beliau: "Bantulah saudara kalian." Mereka pun membantuku, ada yang membantu tigapuluh anak pohon kurma, ada yang membantuku duapuluh, ada yang membantu limabelas, ada yang membantu sepuluh semampu mereka hingga terkumpullah sejumlah tigaratus anak pohon kurma lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallambersabda kepadaku: "Pergilah wahai Salman lalu buatkan lubang tempat penanamannya, setelah itu datanglah kepadaku, aku akan yang akan menanamkannya dengan tanganku dan para sahabatku akan membantuku." Setelah membuat lubang tempat penanaman pohon kurma, aku mendatangi beliau dan memberitahukannya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallampergi bersamaku ke tempat penanaman lalu kami dekatkan anak-anak pohon kurma kepada beliau dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallammeletakkannya dengan tangan beliau, demi Dzat yang jiwa Salman berada ditangannya, tidak ada satu pun anak pohon kurma yang mati. Dengan demikian saya telah menunaikan kurmanya dan yang tersisa bagiku adalah pembayaran uang. Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam diberi emas seperti telur ayam hasil peperangan lalu beliau bersabda: "Bagaimana kondisi Al Farisi yang membayar pembebasan dirinya?" aku pun dipanggil lalu beliau bersabda: "Ambillah dan bayarkan sisa tanggunganmu wahai Salman." Aku berkata: Dimanakah benda ini terletak wahai Rasulullah? Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallambersabda: "Ambillah karena sesungguhnya Allah 'azza wajalla akan membayar untuk (pembebasanmu) dengan benda itu." Lalu aku mengambilnya dan menimbangnya, demi Dzat yang jiwa Salman berada ditanganNya, beratnya mencapai empat puluh uqiyah lalu aku melunasi hak mereka dan aku pun dimerdekakan lalu aku turut serta perang Khandaq bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallamdan aku tidak pernah ketinggalan satu peperangan pun bersama beliau. (Ahmad)

Telah menceritakan kepada kami 'Amru An Naqid; Telah menceritakan kepada kami 'Umar bin Yunus Al Yamami; Telah menceritakan kepada kami 'Ikrimah bin 'Ammar dari Abu Katsir Yazid bin 'Abdur Rahman; Telah menceritakan kepadaku Abu Hurairah dia berkata; 'Dulu, saya sering mengajak ibu saya untuk masuk Islam, ketika ia masih musyrik. Pada suatu hari saya mengajaknya untuk masuk ke dalam Islam, tetapi ia mengutarakan kata-kata yang tidak saya sukai tentang diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian saya datang menemui Rasulullah sambil menangis dan berkata; Ya Rasulullah, saya sering mengajak ibu saya untuk masuk Islam, tetapi ia selalu menolak dan malah mengucapkan kepada saya kata-kata yang tidak saya sukai tentang engkau. Oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah agar ibu saya mendapatkan petunjuk dan hidayah-Nya.' Setelah mendengar penjelasan saya. Rasulullah langsung berdo'a: 'Ya Allah, berikanlah hidayah kepada ibu Abu Hurairah! ' Lalu saya kembali ke rumah dengan perasaan gembira karena doa Rasulullah tersebut. Setibanya di rumah, saya mendapati pintu rumah masih tertutup. lbu saya mendengar derap langkah saya lalu berkata; Hai Abu Hurairah, berhentilah sejenak! ' Kemudian saya mendengar suara tumpahan air. Ternyata ibu saya sedang mandi. Ia segera berpakaian dan mengenakan kerudung. Ia membuka pintu seraya berkata; Hai Abu Hurairah, sekarang aku bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.' Abu Hurairah berkata; "Lalu saya kembali lagi kepada RasuluIlah shallallahu 'alaihi wasallam. Saya datangi beliau sambil menangis karena perasaan gembira. Saya berkata; 'Ya Rasulullah, saya sungguh senang dan gembira, AIIah telah mengabulkan doa engkau. Dan Allah telah memberikan hidayah-Nya kepada ibu saya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memuji Allah dan mengucapkan syukur kepadaNya. Saya berkata; 'Ya Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar saya dan ibu saya mencintai orang-orang mukmin dan mereka juga mencintai kami! ' Kemudian Rasulullah berdoa; 'Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu yang kecil ini (yaitu Abu Hurairah dan ibunya) cinta kepada orang-orang mukmin serta jadikanlah mereka cinta kepada keduanya! ' Maka tidak ada seorang mukmin yang mendengar nama saya dan tidak bertemu dengan saya melainkan ia cinta kepada saya." (Muslim)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Khalaf Abu Salamah telah menceritakan kepada kami Abdul A'la dari Sa'id dari Qatadah dari Zurarah bin Aufa dari Sa'id bin Hisyam dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa cinta bertemu Allah, maka Allah pun cinta bertemu dengannya, dan barangsiapa benci bertemu dengan Allah, maka Allah pun benci bertemu dengannya." Maka di tanyakan; "Wahai Rasulullah, kalau begitu kebencian terhadap perjumpaan dengan Allah, berarti benci terhadap kematian? Padahal kami benci terhadap kematian." Beliau bersabda: "Bukan, akan tetapi hal itu saat kematiannya tiba. Jika ia dikabarkan akan mendapatkan rahmat Allah dan ampunan-Nya, lalu ia cinta berjumpa dengan Allah, maka Allah pun cinta berjumpa dengannya, dan jika di kabarkan ia akan mendapatkan adzab Allah, lalu ia benci berjumpa dengan Allah, maka Allah pun benci berjumpa dengannya." (Ibnu Majah)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin 'Ammar berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Katsir telah menceritakan kepadaku Abu Hurairah, dan dia berkata kepada kami; "Demi Allah, Allah 'azza wajalla tidak menciptakan seorang mukmin pun yang mendengar tentangku dan tidak pernah melihatku melainkan dia akan cinta kepadaku." Aku Abu Katsir berkata; "Apa yang kamu ketahui tentang itu wahai Abu Hurairah?" ia berkata; "Sesungguhnya ibuku awalnya adalah seorang wanita musyrik, aku mengajaknya kepada Islam dan ia enggan dengan ajakanku, lalu pada suatu hari aku mengajaknya lagi namun ia malah menyuarakan tentang Rasulullah dengan sesuatu yang tidak aku senangi. Lalu aku datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan menangis, aku berkata; 'Sesungguhnya aku telah mengajak ibuku kepada Islam, namun ia enggan dengan ajakanku, dan pada hari ini aku mengajaknya lagi kepada Islam namun ia malah menyuarakan tentang Tuan dengan sesuatu yang tidak aku senangi, oleh karena itu berdoalah kepada Allah agar memberi hidayah ibu Abu Hurairah, ' maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Ya Allah berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah." Setelah itu aku bergegas keluar pergi untuk memberi kabar gembira ibuku tentang doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka ketika aku tiba di depan pintu rumah ternyata telah terkunci dan aku mendengar suara gemuruh air dan derap langkah kaki ibuku, lalu ia berkata; "Tetaplah di situ wahai Abu Hurairah, " kemudian ia membuka pintu dan telah mengenakan pakaian sambil merapikan jilbabnya, lalu dia berkata; 'Sesungguhnya aku bersaksi bahwasanya tidak ada ILah selain Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.' Lalu aku kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan menangis karena senang sebagimana aku menangis karena sedih, aku berkata; 'Wahai Rasulullah, ada kabar gembira, sungguh Allah telah mengabulkan doa Tuan karena Allah telah memberi hidayah ibu Abu Hurairah, ' lalu aku berkata; 'Wahai Rasulullah berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku dan ibuku cinta kepada para hamba-Nya yang beriman dan menjadikan mereka cinta kepada kami, ' maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Ya Allah jadikan hamba kecil-Mu dan ibunya ini cinta kepada para hamba-Mu yang beriman dan jadikan mereka cinta kepada mereka berdua." Maka Allah tidak menciptakan seorang mukmin yang pernah mendengar tentangku dan ia tidak pernah melihatku atau melihat ibuku melainkan dia akan mencintaiku." (Ahmad)

Komentar

Visitor

Online

Related Post