Postingan

Transnasionalisasi Islam Berkemajuan

Republika, Selasa, 01 September 2015, 12:00 WIB Seiring dengan perhelatan muktamar dua organisasi kemasyarakatan terbesar di Tanah Air, menggelinding dua gagasan keagamaan. Pertama, Islam Berkemajuan yang ditawarkan Muhammadiyah, persyarikatan yang telah melampaui usia satu abad. Kedua, Islam Nusantara yang disodorkan Nahdlatul Ulama (NU), jam'iyyah yang hampir berusia 90 tahun. Para penyokong gagasan keagamaan ini tak hanya memperkokoh wajah dan wijhah tradisi Islam di Tanah Air, tapi juga berambisi menyebarluaskannya dalam fora internasional karena ekspresi Islam di Indonesia dinilai mampu menyinergikan etik Islam dengan modernitas, secara khusus demokratisasi politik yang elegan. Di Muhammadiyah, keinginan melakukan transnasionalisasi atau internasionalisasi Islam Berkemajuan ini sudah mengemuka sebelum hajat lima tahunannya di Kota Makassar digelar. Transnasionalisasi menjadi tema seminar pra-Muktamar Muhammadiyah pada 14 April 2015 di kampus Universit...

Agama Jadi Topeng dan Kemasan Konflik

Gambar
SuaraMuhammadiyah.com, 9 Januari 2016 Dr Ahmad Najib Burhani, PhD , Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berpandangan bahwa konflik keagamaan di Indonesia  belum selesai karena kadang kala belum adanya political will . Atau belum ada sebuah kemauan keras yang dimiliki pemerintah untuk menyelesaikannya. “Beberapa pemimpin daerah mencoba untuk menggunakan konflik agama dalam memenangkan diri mereka dalam ajang Pilkada,“ katanya. Mereka menggunakan perbedaan agama yang ada dalam masyarakat itu untuk meraih dukungan dari kelompok mayoritas. Misalnya yang terjadi di Kuningan, Depok, Sampang.  Ada calon bupati mencoba menggunakan isu Syi’ah dengan menentang Syi’ah untuk mendapatkan dukungan dari mayoritas masyarakat Muslim di Madura dengan menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia akan berpihak kepada kelompok mayoritas yang ada di sana dan mengusir Syi’ah dari Sampang. Jadi, menurut Najib, konflik di beberapa tempat itu sengaja digunakan untuk mencari duku...

Sejarah Kepanduan Hizbulwathan

Gambar
Dari ENSIKLOPEDI UMUM (1962/1967-1971/1973 – Kanisius, Yogyakarta) dapat dikutip dan diangkat kesaksian dan pernyataan sejarah sebagai berikut: “MUHAMMADIYAH sejak berdirinya maju pesat; jumlah anggotanya naik cepat. Berhasil mendirikan banyak rumah sekolah, memberikan kursus-kursus agama, mendirikan poliklinik, perumahan anak yatim-piatu, dll. Pengajaran modern untuk anak-anak perempuan sangat diperhatikan. Bagian wanitanya AISYIYAH, berdiri sendiri. Gerakan pemudanya ialah Kepanduan HIZBUL WATHON.” Pernyataan dan kesaksian sejarah Hizbul Wathan juga terukir di dalam ENSIKLOPEDI ISLAM (Jilid-2, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1994) sebagai berikut, “HIZBUL WATHAN (Arab=pembela tanah air), nama barisan pandu (sekarang pramuka) Muhammadiyah. Hizbul Wathan berazaskan: 1) Agama Islam dengan maksud: (a) Memasukkan pelajaran agama Islam dalam Undang-Undang dan Perjanjian Hizbul Wathan dan dalam syarat mencapai tingkat kelas; (b) Memperdalam dan meresapkan jiwa Islam dalam lat...

Hamka’s Great Story A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia

Gambar
Hamka’s Great Story A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia James R. Rush New Perspectives in Southeast Asian Studies Alfred W. McCoy, Thongchai Winichakul, I. G. Baird, Katherine Bowie, and Anne Ruth Hansen, Series Editors Fully modern, fully Muslim, fully Indonesian Hamka’s Great Story presents Indonesia through the eyes of an impassioned, popular thinker who believed that Indonesians and Muslims everywhere should embrace the thrilling promises of modern life, and navigate its dangers, with Islam as their compass. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) was born when Indonesia was still a Dutch colony and came of age as the nation itself was emerging through tumultuous periods of Japanese occupation, revolution, and early independence. He became a prominent author and controversial public figure. In his lifetime of prodigious writing, Hamka advanced Is...

Teologi Mustad’afin di Indonesia: Kajian atas Teologi Muhammadiyah

Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islan , Vol 7, No 2 (2011): 345-374 Teologi Mustad’afin di Indonesia: Kajian atas Teologi Muhammadiyah Sokhi Huda Abstract Mustad’afin Theology in Indonesia is the new face of  al-Ma’un theology initiated by the Ahmad Dahlan. It eventually accumulates with more extensive issues and involves partnerships with other parties in order to achieve its praxis strategy. The basic assumption of  this theology is that the practice of  worship must be directly related to social concerns, with a foundation of monotheism that manifests itself  into the realm of  praxis. This finally leads to the key words of “social unity” and “social rituals” which are then developed in the context of contemporary nationhood and statehood in Indonesia. Moreover, its epistemology primarily comes from: (1) Wahhabi-Salafi ideology of  Rashid Rida, (2) the idea of    education reform of  Muhammad ‘Abduh, and (3) theology of al-Ma’un of Ahmad...

Kitab Kuning dan Kitab Suci: Pengaruh Al-Jabiri terhadap Pemikiran Keagamaan di NU dan Muhammadiyah

 Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol 41 No. 1, Juni 2015 Ahmad Najib Burhani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Email: najib27@yahoo.com Abstra ct This article aims to answer the following questions: First, why did the study of al-Jabiri’s ideas so fertile in NU (Nahdlatul Ulama), especially among the post-traditionalist group, while in Muhammadiyah, including the progressive group, this did not receive a similar response? Second, how did the post-traditionalist group of NU read and interpret al-Jabiri’s ideas and implement them in the context of the organization (NU), in particular, and Indonesia, in general. This article shows that: 1) the difference between NU and Muhammadiyah in their treatment and appreaciation to al-Jabiri mostly stems from the religious tradition in these two organizations. NU’s tradition is strongly influenced by kitab kuning, while Muhammadiyah’s tradition is strongly influenced by kitab suci (holy book). 2) The study of a-Jabiri’s ideas encourages critical ...

Pergulatan Pemikiran Melawan Arus: Penyempalan dalam Tubuh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah

Ulumuna: Journal of Islamic Studies, Vol. 11 No. 2 (2007): 237-264 Mutawalli Mutawalli Abstract Political reform after the resign of the former president Suharto in 1998, open the channel of freedom of expression for the people of Indonesia. This enables the Muslims, as the majority of the Indonesian people to express their thoughts in any forms – either orally or in action. This condition resulted in the existence of the liberal progressive movement in Nahdlatul Ulama and Muhamadiyah. The intellectual critical attitude of the young generation in the Nahdlatul Ulama form some institutions such as Liberal Islamic Networks, Islamic Emancipators, Religious study and Democratic Institution, Islamic Study and Social Institution, Human Resource Development Institution; in Muhammadiyah, Muhammadiyah Youth Islamic Networks leads the thought reform. This phenomenon is a concept of dialectical process, communication, and expression of social reality—movements and thoughts are responses of the di...

Visitor

Online

Related Post